Beberapa bulan setelah saya gantung pensiun, ada satu pertanyaan yang terus muncul. Entah dari tetangga, teman lama, atau saudara yang mampir. Bunyinya kira-kira begini: "Lho, sekarang ngapain aja seharian?"
Pertanyaan itu kelihatan sederhana, tapi jujur saja, awalnya bikin saya bingung mau jawab apa. Karena kenyataannya, hari-hari saya justru terasa penuh. Bukan penuh hal besar, sih. Tapi penuh hal-hal kecil yang dulu nggak sempat saya sentuh sama sekali.
Baca juga: Dompet Aman, Badan Ikut Sehat: Hobi Murah buat Anak Kos
Nah, dari situ saya sadar, banyak pensiunan lain yang merasakan hal serupa. Mereka sering bertanya soal hal yang sama: gimana cara mengisi waktu luang, hobi apa yang cocok, olahraga ringan seperti apa yang aman. Jadi tulisan ini saya buat sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Bukan jawaban pakar, tapi jawaban orang yang sudah menjalaninya.
"Olahraga apa yang aman buat saya yang sudah nggak muda lagi?"
Ini pertanyaan yang paling sering masuk. Dan saya paham kenapa banyak yang ragu. Dulu waktu masih kerja, badan bergerak terus tanpa sadar. Sekarang, kalau nggak sengaja digerakkan, badan bisa kaku seharian.
Jawaban singkatnya: mulai dari yang paling ringan, jangan langsung yang berat. Jalan kaki itu sudah olahraga. Serius. Nggak perlu beli alat mahal atau ikut gym. Cukup jalan pagi keliling kompleks selama 20-30 menit, tiga sampai empat kali seminggu.
Kalau badan sudah terbiasa, baru tambah sedikit-sedikit. Misalnya senam ringan di rumah, atau stretching sambil nonton TV. Saya sendiri dulu sempat salah kaprah, pengen langsung ikut senam aerobik yang gerakannya cepat. Hasilnya? Dua hari badan pegal semua dan sempat kapok.
Olahraga ringan itu bukan soal seberapa keras kamu bergerak, tapi seberapa rutin kamu melakukannya.
Ada beberapa pilihan yang menurut saya aman dan nggak bikin kapok:
- Jalan kaki pagi — paling murah, paling gampang, dan bisa sambil ngobrol sama tetangga.
- Senam ringan — banyak video panduan yang gerakannya lambat dan aman untuk sendi.
- Bersepeda santai — kalau punya sepeda, keliling kampung sekali-sekali itu menyenangkan.
- Berkebun — terdengar seperti kerjaan, tapi jongkok, berdiri, dan mengangkat pot itu termasuk gerak badan juga, lho.
Intinya, jangan memaksakan diri. Kalau badan bilang capek, ya berhenti. Nggak ada lomba di sini.
"Hobi apa yang cocok buat pensiunan yang tadinya nggak punya hobi?"
Banyak yang mengira pensiunan itu otomatis punya hobi. Padahal kenyataannya, banyak yang dulu sibuk kerja sampai nggak sempat cari hobi. Jadi waktu pensiun tiba, rasanya kosong.
Kalau kamu ada di posisi ini, tenang. Nggak perlu langsung cari hobi yang "keren". Mulai dari hal yang bikin kamu penasaran. Dulu saya iseng beli beberapa pot tanaman kecil. Awalnya cuma biar halaman nggak kosong. Eh, lama-lama jadi rutinitas yang saya tunggu-tunggu tiap pagi.
Beberapa hobi yang sering saya dengar cocok untuk teman-teman pensiunan:
- Berkebun — dari tanaman hias sampai sayuran di pot. Nggak butuh lahan luas.
- Memasak — coba resep baru yang dulu nggak sempat dibuat karena sibuk.
- Memelihara ikan atau burung — sederhana, tapi memberi rutinitas harian yang menyenangkan.
- Menulis atau mencatat kenangan — nggak harus diterbitkan, cukup untuk diri sendiri.
- Bergabung dengan kegiatan kampung — kerja bakti, posyandu, atau arisan bisa jadi "hobi sosial" yang bikin tetap terhubung.
Kuncinya satu: coba dulu, jangan langsung menilai. Kadang hobi yang terlihat sepele justru yang paling bikin betah.
"Waktu luang kok malah bikin bosan dan gelisah?"
Ini pertanyaan yang jarang diucapkan terang-terangan, tapi sering dirasakan. Waktu luang yang tadinya didambakan, begitu tiba, malah bikin gelisah. Rasanya seperti ada yang kurang kalau seharian nggak ngapa-ngapain.
Saya pernah merasakan itu. Dulu, hari Sabtu dan Minggu adalah waktu yang saya tunggu. Sekarang, setiap hari seperti Sabtu. Anehnya, justru bikin bingung.
Yang membantu saya adalah membuat semacam jadwal longgar. Bukan jadwal ketat seperti jam kerja, tapi semacam "rencana kasar" harian. Pagi jalan kaki, siang istirahat sambil baca, sore berkebun atau bersih-bersih. Nggak harus urut, yang penting ada yang dikerjakan.
Kenapa jadwal longgar ini penting?
Karena otak kita butuh rasa "ada yang dicapai", sekecil apa pun. Menyiram tanaman, menyelesaikan satu bab buku, atau jalan keliling blok sekali pun sudah cukup memberi rasa bahwa hari ini ada isinya.
Selain itu, coba sesekali keluar rumah dan ngobrol dengan orang. Isolasi itu diam-diam bikin murung. Ngobrol sepuluh menit dengan tetangga di depan rumah bisa jadi obat yang nggak ada di apotek.
"Apakah harus ikut komunitas, atau cukup sendiri saja?"
Jawabannya: tergantung kamu. Nggak semua orang nyaman ramai-ramai, dan itu nggak apa-apa.
Kalau kamu tipe yang suka bersosialisasi, ikut komunitas senam atau kelompok hobi bisa jadi penyemangat. Ada teman, ada yang mengingatkan, dan ada yang diajak bercanda. Tapi kalau kamu lebih suka tenang, melakukan hobi sendiri di rumah juga sah-sah saja. Yang penting, jangan sampai benar-benar terisolasi berhari-hari tanpa bicara dengan siapa pun.
Saya sendiri campuran. Senam ikut komunitas kampung biar ada temannya, tapi berkebun saya nikmati sendirian sambil dengerin radio. Dua-duanya memberi kepuasan yang berbeda.
Jadi, sebenarnya apa jawaban jujurnya?
Kalau ada yang bertanya lagi "sekarang ngapain aja seharian?", jawaban saya sekarang sudah beda. Saya bilang: jalan pagi, ngurus tanaman, baca buku, kadang ikut senam kampung. Nggak heboh, tapi cukup.
Pensiun bukan berarti berhenti bergerak. Justru ini kesempatan buat gerak dengan cara yang kita pilih sendiri. Nggak ada target, nggak ada atasan, nggak ada tenggat. Yang ada cuma kita dan waktu yang akhirnya benar-benar milik kita.
Jadi kalau kamu masih bingung mau mulai dari mana, coba satu hal kecil dulu minggu ini. Jalan kaki sepuluh menit, atau beli satu pot tanaman. Nggak usah muluk-muluk. Dari situ biasanya mengalir sendiri.